Surat Untuk Nur

Oleh : Nada Haroen Nur, kapan kamu pulang, Nduk? Padi di sawah sudah menguning, sudah wayahe panen. Kamu ndak kepingin ikut Bapak panen seperti dulu? Kamu dulu yang paling getol memakai ani-ani tiap kali panen karena katamu,”Kata Bobo, alat panen itu ani-ani pak. Kalau mboten pakai ini, bukan panen namanya”. Bapak yang sampai sekarang masih terbatas mengeja huruf hanya tersenyum saja. Kamu selalu bawa majalah bekas yang lusuh itu ke mana-mana. Selalu rutin beli majalah bekas yang kadang sampulnya sudah koyak itu di Pasar Pon tiap kali Emakmu menjual hasil kebun kita. Bapak ingat betul, senyummu mekar dari ujung ke ujung seharian memegang majalah itu. Sesekali kalau Emakmu selesai menyetrika dengan setrika arang yang kini sudah di gudang itu, kamu menyetrika majalahmu yang lusuh itu dengan hati-hati. Sesudah itu, kamu simpan hati-hati di lemarimu yang kecil itu. Senyummu waktu itu Nur, selalu membuat lelah Bapak hilang setelah seharian di sawah. Apakah sekarang kamu masih sering tersenyum seperti itu, Nur? Lik Di yang jadi sopir...
Read More

Kaffarot Goblok

Oleh : Gus Yahya Cholil Staquf Sudah banyak bertebaran di media sosial penjelasan dari orang-orang ‘alim bahwa mufti memberi fatwa hanya jika diminta, dan fatwanya wajib diikuti hanya oleh yang minta. Adapun pendapat yang diumumkan itu namanya “pernyataan publik”. Baik fatwa maupun pernyataan publik tidak dapat serta-merta diberi status “ketetapan hukum” –yang dalam bahwa fiqih disebut qadla atau (bentuk jamaknya: qadlaya) — sebagai hasil keputusan hakim. Pengertian tersebut di atas berkelindan dengan adanya kewajiban bagi setiap Muslim untuk mempelajari sendi-sendi agamanya, minimal sampai batas cukup untuk menjalani hidupnya sehari-hari. Kalau ketanggor hal yang ia tak tahu, baru nanya mufti. Maka jadi tidak lazim jika, umpamanya, ada orang minta fatwa tentang apakah kentut itu membatalkan wudlu atau tidak. Asy-Sya’bi masih duduk-duduk di masjid usai shalat ‘Ied, ketika seseorang mendatanginya minta fatwa, “Saya tadi keburu shalat ‘Ied sebelum sempat belanja permen dan suguhan-suguhan lebaran untuk keluarga dan tamu-tamu. Apa kaffarotnya?” (“Kaffarot” itu artinya denda) “Sedekah dua dirham!” jawab Asy-Sya’bi. Orang itu pun berlalu setelah mengucapkan terima kasih, dan...
Read More

Permainan Sepakbola

 Oleh : KH. Ahmad Mustofa Bisri Cobalah Anda pikir agak tenang tanpa mengikutsertakan kesenangan Anda sendiri, mungkin Anda pun -- seperti orang yang tidak senang atau tidak paham sepak bola -- merasa geli melihat 22 orang dewasa –-sebelas lawan sebelas-- berlari-lari memperebutkan dengan serius sebuah benda bundar. Kecuali dua orang yang bertindak menjaga gawang yang tidak banyak berlari; cukup mempertahankan dan menangkap bola bila bola mengarah ke gawangnya. (Berbeda dengan yang lainnya, kedua orang ini tidak mutlak dilarang memegang bola). Anehnya bila bola sudah terebut, langsung --atau dibawa sebentar kemudian-- disepak lagi untuk diperebutkan kembali. Sering kali, meski sudah ada wasit lapangan dan wasit-wasit garis yang memimpin pertandingan, orang-orang dewasa yang memperebutkan bola itu sampai berantem. Bila karena terlalu sengit berebut bola lalu terjadi tabrakan antar pemain dan wasit sudah menentukan bola diberikan kepada pihak tertentu, pihak ini pun malah menendangnya kembali. Bayangkan bila perebutan 11 x 11 orang dewasa ini tanpa wasit yang memimpin atau wasitnya seperti kebanyakan wasit negeri ini. Sampai...
Read More

Pemimpin yang Kuat dan Amanah

Oleh : KH. Ahmad Mustofa Bisri Seperti kita ketahui, ketika Rasulullah SAW wafat, beliau tidak berwasiat atau menunjuk dengan tegas seseorang sebagai gantinya, khalifahnya. Namun, ada semacam isyarat yang mengarah kepada shahabatnya yang paling dekat, sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a. Shahabatnya yang sekaligus juga mertuanya ini yang diminta mewakilinya menjadi imam shalat saat beliau sudah sangat payah. Dan ternyata musyawarah antara dua kelompok sahabat-Muhajirin dan Anshar-di Saqiefah Bani Sa’idah akhirnya memilih shahabat Abu Bakar r.a. sebagai khalifah pertama. Ketika shahabat Abu Bakar sakit menjelang kewafatannya, beliau sengaja memanggil orang kuat yang menjadi kepercayaannya, sahabat Umar Ibn Khatthab r.a., untuk diajak berembug mengenai penggantinya kelak; meski khalifah pertama ini sudah memiliki ketetapan hati menunjuk tangan kanannya tersebut untuk menggantikannya. Mendengar keinginan sang khlaifah mengangkat dirinya sebagai penggantinya apabila mangkat, sahabat Umar pun mula-mula menolaknya dengan tegas. Berbagai alasan keberatan dikemukakannya dengan tidak lupa memberi alternatif-alternatif. Sahabat Umar antara lain beralasan masih banyak orang baik dan amanah selain dirinya. Tapi, sang khalifah bersikukuh. “Melihat kondisi rakyat...
Read More